a box of laugh, tears, and simple thought

inside me

Axolotl salamander March 2, 2009

Filed under: random thought — adeparamitha @ 3:48 pm

axolotl-mexican-022

This is called Axolotl salamander (Ambystoma mexicanum) atau Mexican walking fish atau Mexican water monster.

Mukanya lucu banget yah, bersinar, dan selalu senyum…

tapi sayangnya udah hampir punah:(

Ayo guys, lebih jaga lagi lingkungan, sayang banget kan makhluk Tuhan yang lucu ini mesti punah cuma karena manusia yang terus mengekspansi lahan sehingga mengganggu ekosistem si salamander ini ataupun hewan lainnya:)

sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?p=65227051#post65227051

info lebih

cheers,

ade

 

saya orang Padang February 15, 2009

Filed under: random thought — adeparamitha @ 9:41 pm

Nama saya Ade Paramitha, itu saja tanpa marga karna saya tidak punya atau tidak diwariskan entahlah saya tidak peduli. Saya orang Padang walaupun saya lahir dan besar di Jakarta dan baru 3 kali seumur hidup pergi ke Padang (2 kali dibilang pulang kampung karna masih ada nenek di sana, 1 kali lagi sebagai turis karena berlibur, tanpa nenek yang perlu dikunjungi). Ayah saya asli Padang, lahir dan menghabiskan masa remaja di sana, pergi merantau ke Jakarta penuh harapan hingga masa di Jakarta melebihi masanya di Padang dan membaurkan logatnya. Ibu saya lahir dan besar di Riau, ayahnya transmigran dari Jawa, ibunya orang Padang, selesai SMA pergi ke Padang, bertemu ayah saya, jatuh cinta, menikah, ke Jakarta, dan menetap.

Kata orang, orang Padang itu pelit. Insya Allah sampe sekarang saya tidak merasa pelit dan tidak ada juga yang bilang saya pelit, apa mereka takut? sepertinya memang saya tidak pelit. Orang tua saya tidak pernah mengajarkan untuk pelit. Ibu saya biasa mengeluarkan rezekinya tiap bulan ke panti asuhan dll. Ayah saya juga selalu membantu orang di sekitarnya yang membutuhkan. Ibu saya selalu iba melihat anak2 kecil di jalanan yang hidup lebih berat dari semestinya, itu menurun ke saya, ke adik saya juga. Ibu saya mudah iba, ibu saya tidak pelit. Siapa bilang orang Padang pelit? kami tidak!

Temang saya dilarang keluarganya untuk menikah dengan orang Padang. Apa alasannya? Apa salah kami? Katanya karna salah seorang tantenya ditinggal suaminya yang orang Padang. Tidak adil! Kenapa karena orang itu satu ras ikut difitnah? Salah seorang anak mantan presiden RI yang asli jawa juga meninggalkan istrinya demi wanita lain, kenapa tidak dikutuk juga seluruh orang jawa? Ayah saya orang Padang, tapi tidak ada tanda2 akan meninggalkan ibu saya tanpa alasan (insya Allah), seluruh keluarga saya orang Padang, tidak ada juga tanda2 akan meninggalkan istrinya.

Kata orang, orang Padang kalau ngomong kasar. Fitnah lain lagi. Kami berbicara keras, tapi tidak kasar. Saya tidak pernah diajarkan bicara kasar oleh orang tua saya. Saya pernah melawan ibu saya waktu kecil, ibu saja langsung menjejalkan cabe ke mulut saya, rasanya perih tapi saya belajar. Ibu saya tidak pernah suka saya kasar. Saya belajar itu dari kecil. Bahkan ibu saya marah bila saya menyebut diri saya “aku” di rumah, dari dulu saya harus menyebut diri saya “adek” sebelum adik saya lahir dan mulai membiasakan dengan “kakak” setelah ada adik tumbuh dan berkembang di perut ibu saya. Saya tidak suka menyebutkan kata2 kasar secara sengaja ke teman saya, seperti ta*, anj*ng, b*b*, dll. Tapi kenapa orang Padang dibilang kasar? Teman saya orang Jawa biasa ngomong begitu, kenapa tidak dibilang orang Jawa kasar? Teman saya orang Kalimantan juga bicara seperti itu, tapi tidak ada cap orang Kalimantan kasar. Tidak adil!

Orang Padang pintar berdagang. Tukang kain di Tanah Abang banyak yang dari Padang, restoran Padang sepertinya ada tiap 5 meter di Jakarta. Saya tidak tahu apa kemampuan berdagang itu tercetak di kromosom orang Padang, tapi sepertinya tidak ada di kromosom saya. Saya tidak bisa berdagang, saya tidak bisa melihat peluang untuk mengambil keuntungan dari apa yang saya punya atau yang saya beli. Ibu saya juga sama, jadi saya bisa bernafas lega, saya tidak sendiri.

Di rumah saya, selalu ada masakan pedas. Ibu saya tidak bisa makan kalau tidak pedas (kecuali kue), Tidak selalu harus balado, tapi minimal ada sambal. Ibu saya pintar masak, tidak selalu masakan Padang. Ibu saya jago masak rawon, lebih enak dari rawon setan yang terkenal di Surabaya plus sambelnya yang pedas sekali. Teman yang pernah main ke rumah saya bilang, “rumah lo kayak restoran Padang, ada gulai, balado, sampe rendang”. Gulai-balado-rendang bukan menu hari istimewa di rumah saya, ini menu sehari-hari. Tapi ibu saya berusaha mengurangi gulai di rumah, sebagai bentuk solidaritas terhadap ayah saya yang harus menghindari kolesterol karna sudah punya terlalu banyak. Tapi sepedas-pedasnya masakan Padang, saya merasa masakan Manado lebih pedas. Tapi ya sudahlah, biarkan cap “Masakan Pedas” tetap menjadi milik orang Padang.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya selalu bangga menjadi orang Padang:)

cheers,

ade

 

choices November 17, 2008

Filed under: my life, random thought — adeparamitha @ 9:52 pm

Disalah satu scene film tahun 1995, Dangerous Minds, Michelle Pfeiffer yang berperan jadi guru satu kelas yang isinya street-wise kids nanya “what is a life?” dan salah satu muridnya jawab “life is choices”.

Gw selalu inget kalimat ini karna memang gw setuju banget. Tiap saat kita nemuin persimpangan, dari mulai bangun pagi, we make the decision whether we get up or stay at bed for a little while (mostly i choose the second one, hehe). dan bgitu terus sepanjang hari sampe kita tidur, nentuin hadap kiri, atau kanan, peluk guling atau peluk pacar (loooh???), gak deng, nauuzubillah (knock on wood) hahahahaha

Kadang persimpangan yg kita temuin bukan 2, bisa sangat banyak pilihan, atau bukan cuma sekedar yes-no question, apalagi yes-yes question (maksudnya kayak di antara 2 pilihan yg sama2 enak, misalnya papah nawarin mau dibeliin iphone atw blackberry, da*n lucky!), yang susah kalo kita mesti milih di antara dua pilihan yg sama2 gak enak. Semua keliatan abu-abu, jadi susah nentuin mana yg baik mana yang gak baik, pilihannya cuma mana yg lebih baik di antara yg gak terlalu baik.

Gak selamanya pilihan yg kita ambil itu bener, tapi kita gak pernah tau itu bener atau gak sebelum keputusannya diambil (ribet yah???). Jadi, yang penting adalah pembelajaran di balik itu smua,  never stop learning never stop improving!

Knapa gw jadi ngomongin ini yah? gw hampir hampiiiiiiiiiiir gak pernah nulis postingan yg serius, eh maksud gw bukannya smua postingan gw main2, cuma yaaaaaa yaaaaa bukan sesuatu yg serius (eh serius lagi, well, whatever!), intinya, gw sedang bingung… di antara pilihan… pilihan yang gak bisa gw ceritain…

Gw nulis ini bukan untuk mencari solusi, cuma pengen diperhatiin (halah!), gak kok, cuma pengen berbagi bagaimana gw memandang hidup.

So, what’s life for you guys??

cheers,

ade

 

Rp. 4000 September 6, 2008

Filed under: my days, random thought — adeparamitha @ 5:31 am

I watched “Andai Aku Menjadi” today on one of indonesia’s private channel. This program shows us another living or another job in indonesia that is totally different with living in a big city like Jakarta. An uptown girl live in an-not-wealthy-family’s house for a while as its daughter. She must work or do anything as if she was the real member of the family.

Today’s about being an eel catcher. I saw the dad and the girl came to a river to catch eels. They came in the morning until afternoon and only got around 8 big eels. Then they sold those eels for Rp 4000! just Rp 4000!! that’s the price for waiting so long underneath the shining sun all day long! Masya Allah… Then they bought cassavas for Rp 3000! I couldn’t understand why did he barter those eels with cassavas??? In fact, eels are so expensive in Sushi tei (not mention the kind of eel, i know, but helloooo??) besides, eels are so much more nutrisious then those cassavas.

The problems are complicated but the main thing is about education. The lack of knowlage brings a severe of unfortunate life, it’s pathetic and miserable. How I wish every kid had a same chance to have a better education.

It’s a lightning bolt moment for me, knowing how precious Rp 4000 for a family. I’m so grateful for what I have, who i am, and where i am. I know that I have done nothing for them, but I won’t stop praying and someday, I hope I have a chance to do something to make a better living, insya Allah..

God, please lead my way:’)

cheers,

ade