take a leap!

‘kira-kira, gue bakal bisa nyetir gak padahal nyebrang jalan aja gue gak bisa?’
Itu sms yang saya kirim ke seorang sahabat sekitar satu tahun yang lalu. Si sahabat hanya membalas dengan tertawa. Saya semakin berpikir, tidak ada harapan.

Situasi berkata lain, tiba-tiba asisten transportasi keluarga berhenti bekerja mendadak. Seiring dengan meningkatnya mobilitas saya (baca: dateng ke acara nikahan), mama menyerah kalau harus terus mengantar-jemput, ditambah tidak tega juga kalau anak gadisnya ini harus selalu mengejar bis atau kereta, bau matahari, muka kucel, dan kere terus karena harus mengeluarkan uang transportasi. Bulat sudah keputusan mama, SAYA HARUS BISA MENYETIR.

Dengan semena-mena, mama langsung menghubungi kursus menyetir untuk saya. Saya panik, perut mulas. Gimana ini? Saya kan gak bisa nyebrang jalan, apalagi harus bawa mobil di tengah jalanan ibu kota? Gimana nanti kalo di persimpangan saya malah berhenti total demi memberikan jalan untuk semua mobil lain? Gimana kalo nanti pelatih kursus saya gak sabaran orangnya? Ah!

Singkat cerita, akhirnya saya bisa menyetir juga. Soal apa yang saya khawatirkan? Tidak ada satupun yang terjadi. Saya terdidik keras menghadapi jalanan Jakarta yang identik dengan individualitas tapi etika berkendara tetap tidak boleh dilupakan. Intinya, saya survive. So far. Alhamdulillah.

Ditambah lagi, sekarang saya sudah bisa menyebrang. Saya sudah mengerti kapan saya bisa meminta jalan, di mana saya harus menyebrang, kendaraan seperti apa yang mau merelakan sedikit waktu untuk mengerem, dan kecepatan bagaimana yang masih memungkinkan saya untuk melintas. Semua saya pelajari dengan sendirinya karena menyetir.

Kadang tanpa kita sadari, kita membuat tahapan-tahapan imajinatif saat melakukan hal-hal tertentu. Menunda melakukan A karena belum melakukan B. At some cases, all we have to do is just take the leap, instead of overthinking everything, then we can get both eventually.

Saya pun teringat kata-kata seorang teman yang lain tentang keputusannya menggunakan jilbab, ‘kalo gue nunggu terus diri gue jadi lebih baik baru pake jilbab, kapan gue pake jilbabnya?’

She took her leap, dare to take yours?

Cheers,

Ade

One response to this post.

  1. ini bagus banget, kebetulan kemarin saya kuliah Knowledge Management, sedikit nasihat prof Gerard, action adalah keputusan penting. Kesempatan ada, action! starting point boleh kecil, tapi move harus fast. Falsafah ini saya pegang, sebulan lalu diterima kerja, starting point tidak terlalu besar, prospek karir dan pengetahuan bagus, namun ikatan kerja yang sangat panjang, yang notabene saya seorang petualang, membuat saya sempat menolak tawaran kerja, tapi saya berkomitmen untuk ambil kesempatan ini. Mungkin besar akhir tahun ini saya sudah jadi senior Consultant. So, talk boleh, tapi jangan NATO, planning bagus, tapi jangan NAPO, dreams big bagus tapi jangan NADO, Read itu keren, tapi jangan NARO, concept sangat penting sebagai inisiasi produk/jasa, tapi jangan NACO.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.