Kedai 1001 Mimpi: Apresiasi dan Secuil Cerita

(perhatian: postingan ini akan sangat amat panjang sekali)

Saya sukaaa sekali tau cerita tentang orang lain – tidak diucapkan dengan nada bangga – bahasa masa kininya adalah kepo (dibaca dengan e bedak). Dengan senang hati, saya mendengar cerita teman-teman, bahkan bila sial, mereka kena saya paksa-paksa cerita. Mau semenarik apapun kisah fiktif percintaan segitiga antara vampir-manusia biasa-manusia serigala jadi-jadian karangan Stephenie Meyer, tetap saja kisah cinta yang dibuat dengan sangat indah oleh Sang Maha Pengatur lebih saya nikmati. Kebetulan-kebetulan yang ada di kehidupan nyata sama sekali tidak mungkin kita temukan di sinetron semacam Cinta Fitri, bahkan saat episode-nya sudah mencapai angka 1000. Penulis cerita, sutradara, ataupun produsernya tidak ada yang dapat menyaingi sutradara alam semesta (ya eyalaaaah).

Ke-kepo-an saya bisa dilihat dari jenis bacaan yang saya gemari. Selain suka blogwalking, saya juga suka memoar. Kehidupan orang lain bisa begitu menarik untuk saya perhatikan apalagi kalau dikemas dengan bahasa penyajian yang ringan, segar, tanpa kehilangan makna dan tujuan. Memoar terakhir, baru banget selesai saya baca, dan menjadi tujuan awal menulis postingan ini (maaf kalau penggemar Cinta Fitri kecewa bila mengira saya akan membahas memoar tentang Mischa) adalah buku terbaru dari Valiant Budi, yaitu Kedai 1001 Mimpi. Tagline-nya, Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI. Valiant menulis buku ini berdasarkan pengalamannya menjadi seorang barista di Arab Saudi. Judul buku sangat mencerminkan tema cerita, poin pertama saya untuk buku luar biasa ini. Poin kedua saya berikan untuk pemilihan covernya yang lucu. Iya, saya memang literally judge a book by its cover.

Berawal dari membaca buku The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita, tulisan yang paling menarik untuk saya adalah tulisan Valiant Budi yang berjudul “Parfum Impian”. Saya seperti mendapat “kick” di akhir cerita. Rasanya ikut kaget dengan apa yang dia alami dan ceritakan di situ. Kaget karena apa? Silahkan baca sendiri, sama sekali tidak rugi kok. Saya jadi tertarik untuk membeli buku terbaru Valiant yang kebetulan di-launch pada bulan Mei ini. Dengan impulsifnya, saya beli Kedai 1001 Mimpi, lupa kalau buku lainnya masih menumpuk di sudut tempat tidur berharap digubris. Seperti biasa, alasan saya untuk segera merobek plastik buku baru tanpa rasa dosa terhadap buku lainnya yang belum tuntas dibaca, “cuma baca dikit, mau liat kayak apa ceritanya. satu bab aja maksimal.” Okay, satu bab sudah lewat. Tanggung ah, bab kedua … hmm seru yah … tau-tau … eh apa ini? Kenapa sudah sampai setengah buku? Sungguh, buku ini terbuat dari campuran opium dan super glue, bikin ketagihan gak bisa lepas.

Kalau kamu menggemari cerita fiktif baik di buku ataupun film, pasti hapal mati dengan alurnya. Awalnya, tokoh utama memasuki dunia atau masalah baru. Lalu dia akan mengalami konflik panjang penuh drama dan intensitas. Setelah mempelajari segala sesuatu, si tokoh utama akan melakukan penyesuaian dan mendapatkan cara untuk mengatasi masalah-masalahnya. Cerita berakhir dengan masalah yang teratasi dengan baik. Kalau tiba-tiba ada masalah lain muncul lagi, iya seperti hantu yang bangkit lagi, penjahat baru yang muncul, atau tokoh pemeran utama berkali-kali hilang ingatan, sesungguhnya itu hanya variasi belaka. Hal ini mengantarkan kita ke poin ketiga untuk buku ini, alurnya mirip sekali cerita fiktif. Sekali lagi, luar biasa Valiant sebagai pemain utama dan Tuhan sebagai Sang Maha Sutradara. Oh tidak-tidak, untuk yang satu ini spesial, saya akan berikan 5 poin langsung. Jadi, sudah ada 7 poin.

Apa sudah ada yang gemas daritadi berharap saya to the point buku ini ceritanya apa?

Saya hanya akan menyampaikan garis besarnya saja. Valiant, yang bisa saya simpulkan sangat menyukai tantangan dalam bekerja ini, memilih menjadi barista di kedai kopi berskala internasional cabang Saudi Arabia. Apa yang dia dapat selama bekerja di sana bukan hanya materi dan daftar pengalaman kerja untuk memperpanjang CV. Lebih dari itu. Lebih buruk atau lebih baik? Tidak ada esensinya untuk dihitam-putihkan.

Pengalaman Valiant sebagai pekerja Indonesia di Saudi yang diceritakan sepanjang belasan bab pertama, melempar memori saya ke beberapa tahun yang lalu saat terjebak membaca novel A Series of Unfortunate Events karangan Lemony Snicket. Terjebak karena kadung beli langsung 7 buku, lagi-lagi impulsif. Kisah Valiant mirip kisah kakak-beradik Baudelaire. Sial terus. Dari mulai suasana kerja tidak kondusif, pelanggan yang aneh-aneh, teman kerja yang gak kalah aneh, atasan yang anehnya paling juara, budaya-budaya setempat yang mengagetkan, cuaca yang terlihat sama sekali gak enak, dan rentetan ketidaknyamanan lainnya. Walaupun begitu, semua diceritakan Valiant dengan lucu dan ringan. Hingga membuat yang membaca tetap tersenyum walaupun hati miris.

Bab-bab selanjutnya menceritakan bagaimana Valiant mulai menemukan ritme kehidupan dan sedikit-sedikit mengatasi masalah yang ada di sekitarnya. Hingga akhirnya dia … hmmm … lalu dia … hmmm … Sudahlah, baca sendiri lanjutnnya.

Poin kedelapan untuk buku ini adalah banyaknya dicantumin artikel-artikel untuk mendukung fakta yang ada. Saya yakin, Valiant melakukan banyak sekali riset untuk menguatkan cerita. Entah berapa banyak tab yang dibuka dalam satu window browser demi menghasilkan satu buku setebal 443 halaman ini.

Saya suka semua bagian dari buku ini, tapi kalau ada yang menodongkan pistol ke kepala untuk bertanya bagian yang paling saya suka, maka saat Lebaranlah jawabannya. Mata saya berkaca-kaca membaca bagian ini, sedih membayangkan apa yang ia alami di sana, apalagi bila dibandingkan dengan gegap gempitanya perayaan Idul Fitri di Indonesia. Iya sih memang, nonton idola cilik atau melihat iklan Prenagen saja sudah bisa membuat saya menteskan air mata haru, tapi ya … ah, sudahlah.

Poin selanjutnya saya berikan untuk pelajaran yang diberikan. Sikap Valiant dalam menghadapi berbagai masalah yang menimpanya secara bertubi-tubi menunjukkan kecerdasan dan juga harga diri yang tinggi. Segala usaha yang ia lakukan untuk menjaga kehormatannya (kok terdengar seperti gadis desa hendak diperkosa?) merupakan caranya juga untuk menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Salut saya. Karena ini, akan saya berikan 100 poin. Jadi total semua adalah 108 poin (kok janggal? Terserah saya dong).

Semoga 108 poin ini cukup untuk membuat kamu semua pergi ke toko buku dan membeli buku Kedai 1001 Mimpi atau minimal cukup untuk segera menghubungi saya untuk pinjam. Dan semoga saya punya cukup alasan untuk memberikan jawaban “sorry, antriannya panjang. Mending lo beli sendiri.”

Selamat membaca :)

Cheers,

Ade

8 responses to this post.

  1. Bener2 jd pengen beli buku ini..

    Reply

  2. Review yang buku yang menarik.. Esensinya tercermin Dan menarik rasa penasaran.. Weekend ini masuk list buku yg harus d baca walo masih Ada PR 2 buku teronggok :D .(sama-sama suka overlaping buku)

    Reply

  3. Sempet khawatir baca postingan ini..takutnya dikasih spoiler, ternyata nggak kok *fiuhh*..hehe. Aku lagi baca buku ini jg Adee..salah satu alasannya krn selintas baca rekomenmu via twitter, dan (juga) tertarik oleh sampul muka bukunya di toko buku kemarin.

    Baru 1/4 bagian dibaca, tp emg menarik ya. Terutama caranya dia membungkus cerita2 miris menjadi kocak. Jatohnya malah satir, hehe. Sepertinya besok buku ini bakal lgsg abis.:D Thx Ade buat ‘pancingan’ beli bukunya.. :p

    Reply

  4. Hmmm… Kamu orang keberapa ya yg bilang buku ini layak beli? :P
    Jd penasaran. Pinjem donk, Deeeee… *todongin pistol di kepala Ade*
    hahaha… Nanti deh kalo semua buku yg belum habis kubaca udah kelar dibaca, aku beli buku ini. :D
    Makasih yaaa… Udah bikin penasraaaaannn…

    Reply

  5. Posted by zahra on May 25, 2011 at 3:15 pm

    Hmmmm . . .uda lama pengen beli buku ini,tapi masih banyak buku lain yg menumpuk belum dibaca. Tapi setelah baca postingan ini, “harus” beli pekan ini . . . :)

    Reply

  6. Salam kenal!

    Tambah menjadi jadi kepengen baca. 4 Gramedia udah didatengin, semuanya kosong stok :D Sekarang sedang hunting untuk beli online :)

    Reply

  7. Yup, when I got home, gw beli buku ini! Review-nya terlalu bagus untuk dilewatkan… Ini gak bakal kayak novel 5 cm yang akhirnya bikin teriak “WTH?!?!” kan?

    Reply

  8. bukunya bagus,baru baca 1 bab pingin baca terus
    kira-kira mas vabyo kapok ga balik ke sana lagi.. :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.