Kesenangan di Secangkir Cokelat Panas

cokelat panas

secangkir cokelat panas

Akhir-akhir ini saya memiliki kebiasaan baru, yaitu contemplating over a cup of hot chocolate. Di rumah, di kedai kopi, di 7/11 *maklum usia belasan, di mana aja. Secangkir cokelat panas menjadi begitu istimewa buat saya karena jelas, itu bukan tipe minuman yang saya minum sehari-hari. Saya penggemar berat air putih, bahkan di tas saya selalu sedia tempat minum berisi air putih dari rumah. Makan di restoran pun saya jarang pesan minuman karena jatuhnya akan pesan air putih juga. Makanya lebih baik saya bawa tempat minum ke mana-mana.

Sedangkan cokelat panas adalah jenis minuman yang saya minum terpisah. Tanpa makanan. Hanya secangkir coklat panas dan saya. Ya, biasanya ditambah elemen buku bacaan. Kadang cukup dengan handphone dalam genggaman. Minum cokelat panas seperti melanggar aturan karena susu di dalam kandungannya itu musuh besar kulit saya. Cepet banget bikin jerawatan.

Saya memiliki kepercayaan kelewat besar kalau cokelat benar-benar bisa menenangkan hati karena kandungan flavonoidnya bisa menurunkan hormon stres. Padahal sebenarnya yang berpengaruh besar itu adalah cokelat pekat, lah yang saya minum ini cokelat manis dengan kandungan susu dan gula berlebih. Tentunya lebih berperan dalam peningkatan kadar gula darah dan berat badan. Ah sudah, biarkan saja imajinasi indah dan harapan muluk-muluk saya tentang secangkir cokelat panas ini, ya? Ya? Ya?

Secangkir cokelat panas menjadi sahabat  buat saya, teman bercerita dalam hati. Saya seakan-akan curhat dalam setiap tegukannya. Saya selalu merasa cokelat panas ini mengangguk-angguk di setiap akhir kalimat saya dan berkata, ‘iya, saya mengerti’, atau sekedar, ‘hmmm, lalu?’.

And that’s how a cup of hot chocolate is becoming for me…

Kemarin, di tengah kesibukan saya menyesap secangkir cokelat panas yang mengepul di ruang makan rumah, kontemplasi tentang kebahagiaan kecil yang ada di sekeliling saya berputar-putar di kepala. Seperti yang pernah ditulis Batari (salah satu blogger yang paling saya suka tulisannya) tentang little happy things. Sekarang, saya juga mau membagi kebahagiaan kecil saya yang ada di mana-mana.

Di doa orang tua saya saat saya memulai hari

Di lompatan kegirangan keponakan saat melihat saya datang

Dilahapnya makan keluarga saat mencoba masakan percobaan saya

Di setiap cangkir cokelat panas yang saya minum

Di tawa sahabat-sahabat saat saya mengeluarkan lelucon yang gak lucu

Di senyum dan anggukan kecil pengendara sepeda motor yang saya berikan jalan saat ingin memutar balik

Di lembaran postcard yang saya terima dari teman-teman

Di permen semacam yupi cola yang diberikan sepasang kakek-nenek baik hati asal Jerman saat saya menggigil kedinginan di dalam canal bus hop on hop off di Amsterdam

Di lembaran lima ribuan yang tidak sengaja saya temukan di dalam tas

Di tiap kepingan macaroon amatiran saya yang dikunyah teman-teman

Di radio yang randomly memutar lagu kesukaan saat di mobil

Di kursi kereta api yang bisa saya duduki sepanjang perjalanan ke kampus atau pulang

Di cokelat, gantungan kunci, pembatas buku, magnet kulkas, baju, gelang, apapun yang saya terima sepulang teman-teman bepergian

Di grafik bar dalam statistik kunjungan blog ini

Di setiap sapa ‘mademoiselle’ yang diberikan selama kunjungan singkat kemarin ke Paris (ah, paling manis emang orang-orang Perancis ini kalo ngegombal)

Di lampu hijau yang saya temui secara berturut-turut sepanjang jalan Diponegoro hingga membuat saya tidak perlu menginjak rem

Di sumpit kayu sekali pakai saat saya berhasil pisahkan dengan ukuran sama besar

Di sawo ekstra yang diberikan penjual buah daerah Landmark

Di robekan plastik pembungkus buku yang baru saya beli

Cokelat panas saya habis tapi list ini belum selesai. Saya rasa cukup untuk saat ini karena tidak pernah ada cangkir kedua. Bisa merusak segala kenikmatannya nanti. Then, all I have left to say is my huge gratitude. Alhamdulillahirobbilalamiin.

Little happy things are everywhere, even in the series of unfortunate events. Lalu, apa little happy things kamu?

Cheers,

Ade

6 responses to this post.

  1. Hmmm… Kalo aku kurang lebih sama, tp coklatnya diganti kopi. Dan bisa minum kopi sampe 4 cangkir sekaligus kalo lg stress. :| *Oooppss… Okay, don’t try this at home* :P

    Btw, kamu hebat deh bisa rajin minum air putih. Aku terakhir kali minum air putih kapan, yaaa…? Udah lupa rasanya. :|

    Reply

    • Posted by adeparamitha on May 7, 2011 at 11:26 am

      ck ck ck nillaaaa banyak amat minum kopinya
      air putih itu hukumnya wajib loh habis makan to rinse our mouth. #edisidoktergigi

      Reply

  2. Posted by ika on May 6, 2011 at 10:10 pm

    Adeeee,, (•ˆ⌣ˆ‎​​​​•) Bagus sekali tulisannya. Kalo eke jarang minum de, males euuy, gw bs makan tanpa minum, hehe. Tp sdg brusaaha banyakin aer sih. Kalo susu skrg gw tkt bgt, krn smenjak ptt trs mnm susu di pagi hari, mau coklat panas atau dingin atau rasa lain, pasti sakit perut bgt ƪ(>_<“)ʃ . Hehe. Ade ditunggu tulisan2 selanjutnya, ː̗̀ \(ˆ▽ˆ)/ ː̖́

    Reply

    • Posted by adeparamitha on May 7, 2011 at 11:28 am

      eeeh ada ikaaaa
      ika ih masa makan gak minum kan sereeeet
      makasih loooh ikaaaa seneng udah mampir eh ngasih komen juga ^_^

      Reply

  3. gak apa-apa, lebih mending jiwa tenang dan terhindar dari stress kan ya, berat badan naik mah bisa turun lagi.. :) ) *denial seorang penyuka coklat juga*

    salam kenal yaaa… :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.