Akhirnya setelah berhari-hari membaca Empat Musim Cinta (sekumpulan 16 cerpen dari 8 penulis), dimulai dari di taksi dalam perjalanan pulang setelah membeli buku tersebut yang hanya sanggup menyelesaikan 2 cerpen pertama, dilanjutkan beberapa cerpen di WC, di kereta dalam perjalanan Pondok Ranji-Manggarai dan sebaliknya, dan perjalanan bemo Manggarai-Salemba, tuntas sudah buku ini gue baca. Tamat. Selesai. Hingga gue tidak sabar menulis postingan ini untuk bilang bahwa gue, Ade Paramitha tidak suka membaca cerpen.
Gue baru sadar ternyata cerpen-cerpen itu sering dibuat dengan twist yang kadang terlalu berlebihan. Sepertinya para penulis cerpen berusaha memberikan akhir-akhir menggantung, tak terduga, atau cerita-cerita di luar mainstream untuk memberikan kejutan bagi pembaca. Sayangnya, sering sekali kejutan-kejutan itu terlalu mudah ditebak, hilang deh unsur kejutannya.
Sedangkan, gue pribadi ternyata penikmat cerita yang mengalir, yang bisa dinikmati pelan-pelan bahkan hingga terasa sangat attached dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Seperti saat membaca tetralogi Twilight, di buku ke dua, New Moon, gue sampai berhenti berbulan-bulan karena terlalu sedih membayangkan Bella yang tiba-tiba ditinggal begitu saja oleh Edward. Padahal gue tau dengan pasti mereka akan kembali bersama, menikah, dan bahagia. Ah, tetap saja.
Getting attached dengan cerita yang gue baca, seringnya gue dapat dari novel, bukan cuma dengan tetralogi Twilight dan kisah cintanya yang berputar-putar. Serangkaian novel Sophaholic karangan Sophie Kinsella pun sukses membuat gue ikut merasakan kepanikannya ketika ada setumpuk hutang yang menggunung dan nyaris tidak ada jalan keluar lagi. Call me melancholic or whatever because I really enjoy being attached with every story I read and find myself drawn into the flow and picture myself as the girl in the stories.
Cerpen gak bisa memberikan gue kesempatan itu, kesempatan untuk ikut ngerasain apa yang tokoh-tokoh utama dalam cerita itu rasakan. Ketika gue mulai menyelami tokoh-tokohnya, eh ceritanya habis, begitu saja. Begitupun dengan ceritanya, saat gue mulai menyenangi alurnya, eh selesai. Rasanya pengen teriak “UDAH??? GITU AJAAAA??? AAARRRGGGHHHHHHH!!” tapi untungnya langsung inget, namanya juga cerita pendek, ya pasti gak panjang dong ceritanya.
Cheers,
Ade

Posted by Merdiana on February 14, 2011 at 11:27 pm
Adee..u are so me..awwh, ada apa dgn kita?such a drama queen??hahaha
Tp tdk smua cerpen tdk memberikan ‘greget’ kok..I was such big a fan of Anita Magazine jaman2 smp-sma, majalah yang sebagian besar isinya cerpen,tiap edisi bisa berisi 15 cerpen gt,daan cerpennya oke2 lho De.Skrg gw kelimpungan nyari cerpen sperti itu dmn.Konon majalahnya udh ga terbit lagi. *fiuuh
Oh iyaa,favorit gw lainnya dr jaman smp smpe skrg itu kumpulan cerpen terbitan Mizan dr berbagai penulis.Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, Izzatul Jannah, etc.Greaat..cerita2nya oke..Sukses mbuat ‘terbuai’
..Bernuansa islami, tp tdk menggurui dan menceramahi..*jadi pengen bongkar lagi koleksi novel cerpen gw itu,hehehe*
okay..keep blogging dan saya akan trus nimbrung komen..hehehe..cups
Posted by adeparamitha on February 16, 2011 at 5:58 am
Hehe sama ya meeerr? Sama2 drama queen
Iya meer, kalo cerpen majalah suka karna bonus, tp karena kemaren ngeluarin budget khusus untuk beli cerpen jadi kalo jelek rasanya kok kecewa sekaliii.
Jd pengen nyari yg lo rekomendasiin ituuu
Triiims imeeer, jadi makin semangat nge-blog \(´▽`)/