Saat Hp Pintar Kehilangan Kepintarannya

Terasa sekali ya ternyata kalau kita itu udah sangat tergantung dengan teknologi  (ya, setidaknya bagi gue) karena siang ini gue merasakan sekali akibatnya.

Sekitar jam 1.30 siang, seperti biasa mama BBM untuk bilang kalau sudah menuju kampus menjemput gue. Lalu tanpa diduga dan dinyana hp gue mati. Blas! Batere habis tak tersisa sedikitpun. Baiklah, gue mulai mengira-ngira waktu mama sampai ke tempat biasa. Ketika sudah merasa pas waktunya, gue mulai menunggu di pinggir jalan depan RSCM. Semenit, dua menit, lima menit, duh, mulai bingung kenapa mama belum sampai. Kepikiran juga, apa gue salah perhitungan waktu? Apa mungkin mama daritadi udah nunggu di dalam parkiran FK UI karena gue telat muncul di pinggir jalan? Bingung! Bingung! Gak ada hp! Gak bisa mastiin! Sepuluh menit, mulai melirik ibu-ibu yang menenteng hp. Eh, si ibu pergi menjauh. Lima belas menit, gue pun mendekati seorang bapak yang sedang duduk di pagar tembok RSCM, mungkin dia supir bajaj, mungkin juga tukang jual rokok, atau tukang parkir, entah lah. Kebetulan bapak ini baru mengeluarkan hp-nya dari saku baju depan.

‘Permisi Pak, boleh saya pinjam hp Bapak? Hp saya habis baterenya dan saya harus menelepon ibu saya.’ Tanya gue agak ragu.

‘Oiya, ini pake saja.’ Jawab si bapak sambil menyerahkan hp-nya ke gue. Hp Nokia kecil warna biru tua yang masih mulus seperti baru. ‘Pulsanya ada empat ribu kalau gak salah.’ Lanjut bapak baik hati itu lagi.

‘Terima kasih Pak!’ Senang, bisa mendapatkan pinjaman hp, ‘Saya pakai buat nelpon ya Pak?’ Tanya gue lagi yang kemudian dijawab dengan anggukan.

Setelah berhasil menelpon mama dan mengabari kalau gue sudah nunggu di tempat biasa, hp dikembalikan ke yang punya sambil menyelipkan selembar uang sepuluh ribu, ‘Ini Pak, terima kasih banyak.’

Ternyata reaksi si bapak berbeda dari yang gue kira, beliau menolak uang itu bahkan sempat berdiri dan menghindar, ‘Gak usah, gak usah!’ katanya. Tapi gue gak kalah gigih, uangnya gue tinggal di tempat duduk si bapak dan segera menjauh dari sana sambil mengucapkan terima kasih yang terakhir.

Baiknya bapak itu, hanya dengan sisa pulsa empat ribu rupiah saja beliau masih mau berbagi. Insya Allah dilapangkan rizkinya ya Pak.

Kebetulan tadi di kampus gue sempat baca satu quote dari agenda seorang teman, namanya Nena. Quote itu bunyinya:

“The best way to cheer yourself up is to try to cheer somebody else up.”

– Mark Twain -

Mau mencoba berbaik sangka, mungkin bapak itu merasakan kebahagiaan tersendiri bila bisa membantu orang lain dan kebetulan, orang yang beruntung itu adalah gue. Alhamdulillah. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak!

Nah kan, ternyata hp gue yang digadang-gadang dengan sebutan ‘hp pintar’ pun ternyata hanya menjadi seonggok benda mati yang tidak ada gunanya bila sudah kehabisan daya. Hhhh, ketergantungan sekali gue dengan benda ini.

Cheers,

Ade

4 responses to this post.

  1. Posted by dadil on February 1, 2011 at 6:31 pm

    Itulah potret kehidupan jaman skrg, kadang qt ingin mbantu sesama,bukan ap2,tp unt melegakan hati qt sendiri..tp kadang org bpendapat lain,pdhl qt tulus unt mbantu.. Soal teknologi.. Skrg org dblg “gila gadget” dh g malu lg,krn y unt mmenuhi hasrat qt,n qt jg dtuntut unt mengikuti pkembangan jaman..he3..

    Reply

    • Posted by adeparamitha on February 2, 2011 at 5:48 am

      Iya dil, beneer. Hmm, siapa yg menuntut yah dil? Hehe… Banyak jg nih yg willingly untuk mengikuti perkembangan zaman :p

      Reply

  2. mmmmmm, kehabisan baterei ini sama kayak kehabisan bensin gak ya?

    wakakakakkkk!!! :D

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.