a box of laugh, tears, and simple thought

inside me

little princess February 25, 2009

Filed under: Uncategorized — adeparamitha @ 6:02 pm

dsc02551

I’ve just finished taken bath

and out of nowhere, there was a note on my laptop

“cari lagu i have a dream hero can’t smile without you make it mine!!!!!!!!!!!!!!!!!! sekarang (dd)”

Ooooch, she’s such a spoiled little princess, but i love her so much!!

cheers,

ade

 

always be my baby February 16, 2009

Filed under: music review — adeparamitha @ 9:25 pm

this song is currently playing on my itunes like thousands time a day…

i love this version, very strong but delicate on its way

and…

Subhanallah David Cook gantengnya….

cheers,

ade

 

saya orang Padang February 15, 2009

Filed under: random thought — adeparamitha @ 9:41 pm

Nama saya Ade Paramitha, itu saja tanpa marga karna saya tidak punya atau tidak diwariskan entahlah saya tidak peduli. Saya orang Padang walaupun saya lahir dan besar di Jakarta dan baru 3 kali seumur hidup pergi ke Padang (2 kali dibilang pulang kampung karna masih ada nenek di sana, 1 kali lagi sebagai turis karena berlibur, tanpa nenek yang perlu dikunjungi). Ayah saya asli Padang, lahir dan menghabiskan masa remaja di sana, pergi merantau ke Jakarta penuh harapan hingga masa di Jakarta melebihi masanya di Padang dan membaurkan logatnya. Ibu saya lahir dan besar di Riau, ayahnya transmigran dari Jawa, ibunya orang Padang, selesai SMA pergi ke Padang, bertemu ayah saya, jatuh cinta, menikah, ke Jakarta, dan menetap.

Kata orang, orang Padang itu pelit. Insya Allah sampe sekarang saya tidak merasa pelit dan tidak ada juga yang bilang saya pelit, apa mereka takut? sepertinya memang saya tidak pelit. Orang tua saya tidak pernah mengajarkan untuk pelit. Ibu saya biasa mengeluarkan rezekinya tiap bulan ke panti asuhan dll. Ayah saya juga selalu membantu orang di sekitarnya yang membutuhkan. Ibu saya selalu iba melihat anak2 kecil di jalanan yang hidup lebih berat dari semestinya, itu menurun ke saya, ke adik saya juga. Ibu saya mudah iba, ibu saya tidak pelit. Siapa bilang orang Padang pelit? kami tidak!

Temang saya dilarang keluarganya untuk menikah dengan orang Padang. Apa alasannya? Apa salah kami? Katanya karna salah seorang tantenya ditinggal suaminya yang orang Padang. Tidak adil! Kenapa karena orang itu satu ras ikut difitnah? Salah seorang anak mantan presiden RI yang asli jawa juga meninggalkan istrinya demi wanita lain, kenapa tidak dikutuk juga seluruh orang jawa? Ayah saya orang Padang, tapi tidak ada tanda2 akan meninggalkan ibu saya tanpa alasan (insya Allah), seluruh keluarga saya orang Padang, tidak ada juga tanda2 akan meninggalkan istrinya.

Kata orang, orang Padang kalau ngomong kasar. Fitnah lain lagi. Kami berbicara keras, tapi tidak kasar. Saya tidak pernah diajarkan bicara kasar oleh orang tua saya. Saya pernah melawan ibu saya waktu kecil, ibu saja langsung menjejalkan cabe ke mulut saya, rasanya perih tapi saya belajar. Ibu saya tidak pernah suka saya kasar. Saya belajar itu dari kecil. Bahkan ibu saya marah bila saya menyebut diri saya “aku” di rumah, dari dulu saya harus menyebut diri saya “adek” sebelum adik saya lahir dan mulai membiasakan dengan “kakak” setelah ada adik tumbuh dan berkembang di perut ibu saya. Saya tidak suka menyebutkan kata2 kasar secara sengaja ke teman saya, seperti ta*, anj*ng, b*b*, dll. Tapi kenapa orang Padang dibilang kasar? Teman saya orang Jawa biasa ngomong begitu, kenapa tidak dibilang orang Jawa kasar? Teman saya orang Kalimantan juga bicara seperti itu, tapi tidak ada cap orang Kalimantan kasar. Tidak adil!

Orang Padang pintar berdagang. Tukang kain di Tanah Abang banyak yang dari Padang, restoran Padang sepertinya ada tiap 5 meter di Jakarta. Saya tidak tahu apa kemampuan berdagang itu tercetak di kromosom orang Padang, tapi sepertinya tidak ada di kromosom saya. Saya tidak bisa berdagang, saya tidak bisa melihat peluang untuk mengambil keuntungan dari apa yang saya punya atau yang saya beli. Ibu saya juga sama, jadi saya bisa bernafas lega, saya tidak sendiri.

Di rumah saya, selalu ada masakan pedas. Ibu saya tidak bisa makan kalau tidak pedas (kecuali kue), Tidak selalu harus balado, tapi minimal ada sambal. Ibu saya pintar masak, tidak selalu masakan Padang. Ibu saya jago masak rawon, lebih enak dari rawon setan yang terkenal di Surabaya plus sambelnya yang pedas sekali. Teman yang pernah main ke rumah saya bilang, “rumah lo kayak restoran Padang, ada gulai, balado, sampe rendang”. Gulai-balado-rendang bukan menu hari istimewa di rumah saya, ini menu sehari-hari. Tapi ibu saya berusaha mengurangi gulai di rumah, sebagai bentuk solidaritas terhadap ayah saya yang harus menghindari kolesterol karna sudah punya terlalu banyak. Tapi sepedas-pedasnya masakan Padang, saya merasa masakan Manado lebih pedas. Tapi ya sudahlah, biarkan cap “Masakan Pedas” tetap menjadi milik orang Padang.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya selalu bangga menjadi orang Padang:)

cheers,

ade