Percakapan via BBM pagi hari:
Saya: Gue hangover
Desti: Hangover di mana kamyuuu??? Kayak anak smp aje dah
Saya: Hangover kayak anak smp? *mulai disorientasi usia, sejak kapan anak smp suka hangover?
Desti: Iyalah. Yang menjelang perpisahan sekolah itu, Mereka kan hangover biasanya
Saya: Itu sleepover >.<’
Aaaaah, desti … di tengah perjalanan rumah kampus yang waktu tempuhnya mirip Jakarta-Bandung naik mobil travel versi ugal-ugalan, you really made my morning!
Kenapa saya bilang saya hangover? Karena kepala saya berat, sakit, ngantuk, badan pegal semua, mata perih, pinggang sakit, dan bahkan bangunpun kesiangan. Tunggu, jangan dikira saya beneran habis party tadi malam dan mabok-mabokan. Bagian “party”-nya emang bener tapi untuk bagian “mabok” jelas gak, pahala saya masih terlalu sedikit untuk digadai sama dosa. Untuk ukuran anak Jakarta secemen saya, party di sini jelas pesta kawinan maksudnya. Untuk memperjelas lagi, pesta kawinan biasa aja, bukan tipe yang ada after party-nya gitu. Tapi kenapa saya bisa sampai hangover? Mari kita mundur ke satu hari kemarin …
***
Niat mulia untuk bangun pagi dan siap-siap ke nikahan salah satu teman kampus gagal karena tergoda bujuk rayu kasur yang dengan egoisnya menahan saya tetap meringkuk di dalam selimut. Saya bangun agak kesiangan. Sebenarnya bangunnya sih gak kesiangan hanya mulai bersiap-siapnya yang kesiangan. Saya akhirnya berangkat jam 7.45 pagi menuju masjid At-Tin TMII, padahal akad nikah mulai pukul 8 pagi. Saya sukses telat 30 menit.
Setelah foto dengan pengantin, makan, dan ngobrol saya lanjut ke resepsi teman saya yang lain. Jam 10.30 saya menuju lebak bulus. Petunjuk jalan ditulis lengkap oleh seorang teman via BBM. Ternyata nyetir sambil bolak-balik lihat BBM bukan ide yang baik. Jam 11 saya tiba di lokasi. Di suatu daerah yg kayaknya saya baru sekali seumur hidup ke sana.
Setelah modus operandi yang sama, yaitu foto-makan-ngobrol (walaupun dengan urutan berbeda), saya pamit lebih cepat untuk pulang pada pukul 12.20. Karena waktu yang saya kira masih cukup banyak sebelum menuju ke jadwal selanjutnya, saya menyisipkan agenda mampir ke PIM untuk ke Watson. Waktu yang saya butuhkan untuk jalan dari parkiran-atm-watson-parkiran ternyata masih lebih singkat daripada waktu yang terbuang untuk mencari parkir muter-muter sampai akhirnya saya pakai jurus andalan ibu saya, yaitu buka kaca ke satpam dengan pandangan dan suara melas, “paaaak, ada parkir gaaak?” Langsung deh pak satpam ngizinin saya parkir di tempat mobil bongkar muat. Aaawww girls, don’t you all feel so blessed being a girl? With those soppy eyes, we are irresistible! (cara ini bisa digunakan walaupun sejauh mata memandang gak terlihat tempat parkir available)
Begitu sampai rumah jam 2 siang, saya langsung berangkat lagi ke BSD 15 menit kemudian untuk mengantar adik saya dandan. Malam ini, dia bertugas sebagai penerima tamu pernikahan anak sahabat orang tua saya, teman saya dari kecil juga. Jam 5 sore, saya berangkat ke PTIK di Kebayoran dari BSD tempat resepsi teman saya. Ini tujuan terakhir saya malam itu. Adik saya cantik sekali, ini pertama kalinya dia menggunakan bustier, kebaya brokat, sanggul, dan sandal dengan hak, walaupun hanya sekitar 3 cm. She’s no longer my baby sister.

Jam 10 lewat sedikit saya sampai rumah. Langsung tidur tanpa sempat mematikan lampu.
***
Itu ceritanya kenapa saya bisa lemah letih lesu pagi ini. Kalau tidak ada janji pasien pagi-pagi, bisa dipastikan saya masih dibalik selimut sampai jam 10. Bukan menembus macet dengan gagah berani begini. Berkali-kali sepanjang jalan saya sangat tergoda untuk putar balik dan meng-sms pasien dan supervisor saya dengan sms fitnah saling mengadu domba. Kepada pasien saya akan bilang dokternya harus rapat mendadak dan kepada dokternya saya akan bilang kalau pasien saya tidak bisa datang. Dan saya bahagia di dalam selimut. Tidak… Tentu saja itu hanya ada di pikiran liar saya. Yang bisa saya lakukan hanya pindah-pindah saluran radio hingga lagu yang saya kenal, ikut nyanyi, pindah lagi, nyanyi lagi, pindah lagi, sampai bosan, tukar cd, nyanyi, cepetin ke lagu yang saya suka, nyanyi, bosan, pindah radio lagi, begitu terus sampai… voila! Saya sampai di parkiran kampus. Kampus tetangga tentu saja. Mencari parkir di kampus FKG UI jam 8 lewat bagaikan menulis di atas air, bagai pungguk merindukan bulan, bagai mencari jarum ditumpukkan jerami.
Alhamdulillah, ternyata pekerjaan saya hari ini lancar. Pasien saya bisa pulang dengan gigi sementara yang baru. Ini membuat saya senang berkali-kali lipat. Terbayar perjuangan menyeret badan sepanjang perjalanan ke kampus. Dan saya bisa menulis postingan ini sambil senyum-senyum karena kelewat senang.
Bukan hanya pagi ini saya ingin mundur teratur sebelum berjuang, dalam hal ini menembus macet, malam sebelum 3 acara pernikahan pun, saya sudah ingin menyerah kalah dengan segala kekhawatiran, mari kita mundur lagi di 2 malam kemarin, malam minggu.
***
Jam 9 malam, saya sudah mencoba untuk tidur karena besok ada agenda panjang yang harus diselesaikan. Wedding Frenzy. Ada 3 acara pernikahan yang harus saya datangi. Setelah saya bisa menyetir, saya selalu usahakan sebisa mungkin memenuhi undangan pernikahan teman-teman. Saya kosongkan jadwal dari jauh hari, kadang juga membuat baju baru. Semua saya lakuin karena saya suka sekali dengan acara pernikahan. Saya suka melihat teman-teman saya tampil cantik dan ganteng di hari istimewa mereka, melihat gedung dan dekorasi cantik sesuai kepribadian pengantin, mencoba makanan-makanan enak dan langsung mencatat baik-baik catering yang digunakan, melihat keanekaragaman adat dan budaya yang digunakan, melihat bunga-bunga. Oooh, I just love wedding parties.
Lalu saya membayangkan harus menyetir kesana-kemari sendiri, pergi ke pesta sendiri, sepanjang hari… suddenly, I miss my driver.
Suddenly, I don’t wanna go tomorrow.
Suddenly, all I want is spending the whole day lying on my bed.
Suddenly, I want to cry. Gak tau kenapa.
Lalu saya memulai percakapan dengan Desti via BBM:
Saya: Des, gue baru ngebayangin besok wedding frenzy aja udah puyeng banget
Desti: Lo harusnya seneng, gak semua orang bisa ngerasain kayak lo. Lo coba bayangin jadi Jane (Katherine Heigl) di 27 Dresses, bayangin gimana dia jadi bridesmaid di dua tempat dalam satu waktu tapi tetep seneng ngelakuin itu semua. Dan lo bisa cerita di blog nanti.
(well, saya tau sih tokoh Jane hanya fiktif belaka, tapi karena suka banget spirit dia, saya jadi tersentil juga)
Saya: I should be thankful then. Thank you Desti, you don’t know how it means to me.
Desti: Now, go to sleep and start tomorrow with a bright smile.
Saya mencoba tidur lagi…
Tapi tetap tidak bisa, entah terlalu excited, entah karena deg-degan. Akhirnya saya menghabiskan beberapa jam di telpon dengan sahabat saya.
Dan ya, saya kesiangan.
***
Saya jadi tau, mudah sekali untuk menyerah. Semudah memutar mobil atau matiin hp dan alarm, tetap di dalam selimut. Tapiiii ternyata, kebahagiaan yang didapat kalau kita tetap maju, jauh lebih menyenangkan dari sekedar memutar mobil atau di dalam selimut. Seperti saat salah satu teman saya yang menikah bilang “terima kasih ya sudah nyempetin datang dari akad nikah, aku gak nyangka.” Ya, ampuuun rasanya senang bangeeett. Apa? Males bangun tadi? Ah, gak kok!
cheers,
Ade